Blog Archives

Antara Mimpi dan Realita: Sebuah Proses Kreatif

 

Maggie Tiojakin

Ketika film besutan sutradara Christopher Nolan, Inception, dirilis di teater pada tahun 2010—para penggemar science fiction langsung berlomba-lomba menginterpretasi pesan yang kira-kira tertanam dalam film tersebut. Apalagi ditambah dengan ending yang tidak pasti, sehingga membuat para penyimaknya bertanya-tanya apakah si protagonis akhirnya kembali kepada anak-anaknya atau masih tenggelam dalam mimpi. Mengingat teori yang sudah beredar baik itu di media cetak maupun di dunia maya, tidak perlu rasanya bagi saya untuk mengulang kembali sensasi yang menyelimuti film tersebut ataupun menjelaskan secara detail perihal plot film yang berlapis-lapis. Meski begitu, saya tetap ingin membahas Inception dalam kaitannya dengan proses kreatif.

 

Belum lama ini saya kembali menonton Inception untuk yang ke-lima kalinya. Saya memang punya kecenderungan menonton ulang film-film yang bagi saya bisa dikupas berkali-kali. Film lain yang pernah saya tonton lebih dari tiga kali adalah A Few Good Men, Boys Don’t Cry, The Abyss, Back to the Future, Groundhog Day, Notes of A Scandal, The Truman Show dan Garden State. Masih panjang sebenarnya daftar film-film yang saya tonton berulang kali—tapi tidak mungkin saya sebutkan satu-satu di sini. Sebagian orang-orang terdekat saya selalu mengkritik kebiasaan saya mengulang tontonan dengan pertanyaan, “Kok nggak bosen sih?”

 

Dan saya akan berusaha menjawab pertanyaan tersebut dalam esai ini, kalau memungkinkan. Adasatu serial televisi yang saya tonton berulang kali dari Season 1 sampai Season 4, yaitu The West Wing. Dialognya membuat saya kecanduan. Akting ensemble yang natural juga selalu membuat saya terkagum-kagum. Tapi mari kita bahas hal ini di lain hari. Sekarang kita kembali ke Inception.

 

Dalam beberapa wawancara, Christopher Nolan mengatakan bahwa dalam film Inception ia berusaha untuk mengedepankan sebuah ide di mana “mimpi bisa dimanipulasi dan diatur secara sadar.” Jika kita menelaah plot film, petikan tersebut dapat dikembangkan menjadi teori psikosis yang rumit. Namun dari segi proses kreatif, petikan tersebut bisa dikristalisasikan sebagai esensi dari teknik bercerita.

 

Bagi seorang penulis, bercerita adalah skill utama yang bisa dipelajari namun tidak bisa  diakali dengan kepura-puraan. Dan dunia yang dia ciptakan dalam karya-karyanya merupakan ‘mimpi yang telah dimanipulasi dan diatur secara sadar.’ Dibandingkan dengan pekerja seni (artist) lainnya, beban penulis dalam proses penciptaan dunia yang utuh untuk kemudian ditempati oleh para pembaca bisa dibilang yang paling berat. Ini dikarenakan sensori yang digunakan pembaca untuk menikmati sebuah karya tulis jauh lebih kompleks (dan beragam) bila dibandingkan dengan sensori yang digunakan pendengar musik untuk menikmati musik atau penikmat lukisan untuk mengapresiasi lukisan.

Saya selalu mengatakan bahwa pengalaman membaca adalah pengalaman personal yang tidak bisa di-share bersama orang lain, sama seperti menulis. Sensasi yang dialami  pembaca saat menikmati sebuah bacaan adalah hal yang sifatnya sakral, unik dan magis. Ini artinya bila 1000 orang membaca satu buku yang sama, maka sensasi yang dihadirkan berjumlah sama banyak (1000). Sensasi tidak hanya berarti emosi; tapi juga proses rekoleksi. Bagaimana seseorang memproses karya tulis, menyaring pesan, mengolah emosi dengan kapasitas rekoleksi hingga menghasilkan empati yang berpotensi mengubah visi terhadap hidup dan dunia adalah sensasi yang dihasilkan oleh bahan bacaan. Berbeda dengan film, di mana penonton dibombardir dengan segala macam efek visual dan pendengaran hingga pesan yang terimplikasi di dalam cerita tak jarang hilang atau tercecer. Atau lukisan, di mana pengamat diminta untuk mengasosiasikan emosi dengan warna, goresan, serta teknik menggambar. Atau musik, di mana pendengar harus mencerna nada demi nada demi komposisi. Tulisan adalah bentuk komunikasi seni yang lugas dengan kemungkinan yang tak berbatas. Dan, lewat tulisan, kita dapat memicu semua fungsi indera manusia yang lumrahnya berkoresponden dengan hal-hal di luar tulisan. Kita bisa menghadirkan musik, membuat pembaca merasakan hangatnya api di perapian, atau mengalami serunya bermain ski—dan lain-lain—lewat proses rekoleksi dan pemberian informasi.

 

Lapisan dunia yang dibentuk oleh Christopher Nolan dalam Inception sedikit-banyak menyinggung proses kreatif seseorang dalam menciptakan suatu karya nyata. Karya nyata adalah karya yang sanggup berdiri sendiri tanpa harus ditopang oleh penjelasan si empunya karya; serta karya yang memiliki ‘nafas’-nya sendiri di mana si pencipta pun merasa terbantukan oleh hadirnya ‘true inspiration’ atau yang disebut-sebut dalam film sebagai “original idea”.

 

Begitu film tersebut diputar di pasaran, para penikmatnya lantas mulai mencari tahu lebih dalam lagi tentang arti sebuah mimpi dan berusaha menginterpretasi pesan apa saja yang tertanam dalam Inception. Si penulis (yang juga merangkap sutradara) sampai kewalahan menjawab ribuan pertanyaan yang diarahkan kepadanya perihal ending film.

 

“Dalam karier saya sebagai seorang filmmaker, baru kali ini saya ditanya berulang kali tentang hal yang sama hingga saya tidak tahu lagi harus menjawab apa,” kata Christopher Nolan di salah satu wawancara media. “Anehnya lagi, orang sangat berharap agar saya menjawab pertanyaan tersebut.”

 

Banyak yang berasumsi Christopher Nolan enggan menjawab pertanyaan tersebut karena takut mengurangi nilai enigmatik dari ending film-nya. Tapi saya membaca jawabannya dari sudut yang berbeda. Christopher Nolan tidak berusaha mengelabui penikmat filmnya, ataupun menutup-nutupi apa yang dia tahu. Menurut saya, dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan tersebut karena dia sendiri tidak tahu apa implikasi dari ending film Inception di mana totem milik Dominic Cobb (Leonardo DiCaprio) terus berputar.

 

“Menurut saya itu ending yang tepat,” kata Christopher Nolan dalam wawancara yang sama. “Saya sengaja memberikan ending yang ambigu karena rasanya seperti  ‘tendangan’ jitu bagi saya…Tujuan dari adegan itu adalah untuk menunjukkan bahwa Dominic tidak lagi perduli apakah dia ada dalam mimpi atau sudah benar kembali ke dunia nyata. Yang dia perdulikan hanya anak-anaknya. Itu sebenarnya emosi yang ingin saya hadirkan dalam adegan tersebut.”

 

Setelah menonton film ini lima kali, saya juga sudah berhenti bertanya-tanya apakah Dominic berhasil kembali ke anak-anaknya di dunia nyata atau tidak. Pertama, karena menurut saya usaha yang dicurahkan para penikmat film untuk memecahkan teka-teki ini takkan berbuah apa-apa karena si pembuat film memang tidak pernah bertujuan untuk memecahkannya. Kedua, rasanya tidak begitu penting bagi saya untuk tahu akhir dari perjalanan Dominic karena selama manusia masih hidup, kenyataan dan mimpi akan selalu tumpang-tindih. Ketiga, kenapa harus memberikan batasan pada sebuah karya yang pada dasarnya tanpa batas?

 

Bagi para pekerja seni, saya rasa tidak ada bentuk apresiasi yang lebih tinggi terhadap kreativitas mereka daripada dialog yang mengikuti karya tersebut. Apapun mediumnya, bagi saya karya seni yang berhasil adalah karya yang membuat penikmatnya resah—dan terdorong untuk keluar dari zona nyaman mereka. Itu juga salah satu ‘lapisan pesan’ yang saya terima dari Inception, baik itu dari segi kreasi si penulis/sutradara maupun dari isi cerita.

 

“Dalam Inception, saya ingin mengeksplorasi sebuah ide di mana beberapa orang bisa saling berbagi mimpi yang sama,” ujar Christopher Nolan. “Bila kita punya kemampuan untuk memasuki alam bawah sadar orang lain—bagaimana kita akan menarik batasan-batasan moral/sosial?”

 

Sebagian besar dari film Inception, terlepas dari teori teknis yang menyeret-nyeret alur cerita, terdiri dari pertanyaan. Hal inilah yang akhirnya memicu dialog antar para penikmat film serta peneliti mimpi. Bahkan ending film pun ditutup dengan pertanyaan.

 

Di pihak lain, sejauh ini, hampir 90 persen dari karya kreatif yang saya temukan di dalam negeri—terutama buku—tampak terlampau sibuk menyodorkan jawaban. Penulis seolah merangkap sebagai motivator, psikiater, penasihat spiritual dan peramal. Baru baca satu, dua halaman saya langsung merasa lelah dikuliahi. Karena itu saya pernah bilang bahwa penulisIndonesiacenderung masih mencari aman. Konflik yang dihadirkan juga cenderung terbungkus oleh klise dengan perdebatan yang didasarkan pada metode “baik versus jahat” atau “hitam versus putih”.

 

Namun saya masih bisa tersenyum karena tidak sedikit penulis diIndonesiayang menunjukkan kepiawaian dalam bercerita dan tak kalah menarik karyanya dibandingkan dengan para penulis luar. Winna Efendi, salah satunya; lalu ada juga Agustinus Wibowo; Eka Kurniawan; Ratih Kumala; dan Agus Noor. Masih banyak lainnya. Dalam kapasitas mereka masing-masing, penulis-penulis yang saya sebutkan berhasil mendobrak batas kesusastraan lokal dengan terus menghasilkan karya-karya yang melontarkan pertanyaan mendasar dalam diri pembaca. Mengangkat tema cinta, perjalanan, sejarah, keluarga dan politik—mereka berhasil mengupas isu-isu kemanusiaan yang sifatnya universal.

 

Mungkin itu juga yang membuat karya progresif Christopher Nolan jadi bahan perbicangan banyak orang. Terlepas dari plot-nya yang rumit serta special effect yang mencengangkan—pada akhirnya Inception melempar pertanyaan universal tentang mimpi-mimpi yang terus mengikuti perguliran hidup manusia. Ilusi dan realita adalah dua mimpi yang dipisahkan oleh garis tipis psikosis. Begitu juga dengan cerita dan proses kreatif. Penulis legendaris seperti Haruki Murakami, Jose Saramago, Ernest Hemingway, Charles Dickens, F. Scott Fitzgerald, Alice Munro, Joyce Carol Oates, Salman Rushdie dan—ya—J.K. Rowling (dan masih banyak lagi) dalam kapasitas mereka masing-masing telah berhasil memicu sekian banyak dialog di antara para pembaca dan kritikus yang berlomba mencari ‘benang merah’ di tengah himpunan kata dan susunan alinea.

 

“Otak kita tidak bisa membedakan antara realita dan ilusi,” ujar Dominic pada Ariadne di salah satu adegan paling memukau dalam film Inception. “Bahkan saat kita tertidur, otak kita terus bekerja untuk menciptakan realita baru—ini titik masuk kita.”

 

Menulis adalah pekerjaan yang didominasi oleh kesendirian; dan memang seharusnya begitu. Untuk mencapai relung paling dasar dalam diri manusia serta mencari untaian benang merah yang tersulam disanadan mengolahnya menjadi sebuah karya nyata, perjalanan yang dilalui penulis harus dilakukan seorang diri. Bukan karena takut idenya dicuri, bukan; namun karena metamorfosis sebuah ide adalah hal yang personal—sama seperti sensasi pembaca saat meresapi ide tersebut dan mengolahnya menjadi sebuah pengalaman nyata. Oleh sebab itu juga, karya yang berani, yang dengan lantang melemparkan pertanyaan demi pertanyaan tentang kondisi kemanusaan kita, adalah karya-karya yang paling sering dinikmati berulang kali. Karena karya semacam itu akan selalu memperkaya dirinya sendiri seiring dengan waktu yang berlalu dan alur perguliran realita dalam hidup penikmatnya.

 

Saya yakin, tidak lama lagi saya akan kembali duduk di depan layar televisi saya sambil menyetel DVD Inception karya Christopher Nolan. Kalau kalian belum menontonnya, saya sarankan untuk segera meminjamnya dari teman, kenalan, klien atau toko sewa video terdekat. Atau beli DVD aslinya yang dilengkapi dengan special features menarik.

 

Selamat menonton!

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.