Twitteriak Episode #4

Perhatian publik tercuri lewat cerita-cerita pendek yang ia tuliskan di Weekender The Jakarta Post. Kemudian kumpulan cerpennya diterbitkan mulai dari Homecoming hingga Balada Ching-Ching. Ada yang menyebutnya penulis Indonesia dengan wawasan global, tetapi Scriptozoid! menilai kehadiran penulis muda Maggie Tiojakin ini sebagai the most promising young writer lewat kumcer Balada Ching-Ching.

Menggemari L.A. Law hingga sempat bercita-cita menjadi pengacara, tetapi akhirnya Maggie malah menekuni dunia tulis-menulis sejak kecil. Dalam blog http://www.maggietiojakin.com ia bahkan pernah menulis novel 400-an halaman di masa kecil dengan judul NIBOR yang bila dibalik akan menjadi nama ROBIN namun menghilangkannya.

Kekuatan tulisan-tulisannya ada pada tema konflik psikologis dan karakter manusia modern yang terjebak di dalam arus zaman. Tahun 2011 ini, ia melahirkan skenario film dan satu novel baru. Di akhir tahun 2011, mari simak obrolan TWITTERIAK dengan Maggie Tiojakin berikut ini.

Scriptozoid!: Senang @MaggieTiojakin bisa ada di #Twitteriak episode akhir tahun 2011. Ingin tahu deh, apa arti tahun 2011 buat Maggie?
Maggie Tiojakin: Sama-sama, senang juga bisa join #Twitteriak yang mantap ini. 2011 tahun penuh berkah buat aku.

Scriptozoid!: Itu apa artinya ya? Jelasin donk lebih banyak…
Maggie Tiojakin: Tahun 2011 ini aku bisa menyelesaikan novel #WinterDreams. Aku juga diberi kesempatan oleh @Gramedia untuk menerjemahkan karya-karya klasik. Dan aku bisa kerja bareng @awisuryadi n @Delon_Tio untuk film Simfoni Luar Biasa (#SLB)

Scriptozoid!: Wow, dunia cerpen, novel, dan film. Gimana cara Maggie menempatkan diri di tiga hal menarik itu?
Maggie Tiojakin: Go with the flow aja sih sebenernya. Ketiganya menarik untuk dieksplorasi. Dan prinsipnya sama, teknik aja beda. Benang merahnya satu: bercerita. Karena nggak semua cerita bisa diceritakan dengan satu medium.

Scriptozoid!: Dalam skala tingkat kesulitan 0-10, berapa tinggi skor bercerita lewat cerpen, novel, film?

Maggie Tiojakin: Hmmm. Nggak bisa diukur menurutku. Karena masing-masing medium punya tantangan sendiri-sendiri. Cerpen itu medium penceritaan singkat dgn unsur cerita lengkap. Contohnya komik Archie, ceritanya itu-itu aja, lokasinya juga. Tapi karakternya yang bikin hidup.

Scriptozoid!: Martin Scorcese pernah ditanya penting mana antara cerita vs. plot. Kalau saya masukkan karakter ke dalamnya, mana dari 3 ini yang penting buat Maggie?
Maggie Tiojakin: Karena aku bicara dari segi penulis, bukan filmmaker, yang paling penting itu karakter. Buat aku, cerita dan plot seru gak ada artinya kalau karakternya generik. Dan prinsip ini, buatku, berlaku untuk semua jenis cerita: cerpen, novel, film, atau komik.

Scriptozoid!: Oke, kalau gitu siapa karakter-karakter yang Maggie gunakan di dalam cerita-cerita Maggie? Seberapa dekat mereka dgn realita? Siapa itu Andari Maimar di cerpen Dua Sisi, Nicky F. Rompa di #Winterdreams, Suci di Anatomi Mukjizat? 
Maggie Tiojakin: Karakter-karakter di cerita aku semuanya dari realita. Orang-orang yang aku tahu secara personal ataupun yang aku baca di media. Semua karakterku punya porsi realita beragam. Ada investasi imajinasi, orang lain serta dari pribadiku juga. Intinya baik itu Andari, Nicky maupun Suci could be anyone we know.

Scriptozoid!: Karakter Andari, Nicky, Suci buat saya betul-betul asing, tetapi emosi-emosi mereka nyata. Soal emosi, apa komentar Maggie? 
Maggie Tiojakin: Emosi itu buat aku benang merah setiap cerita. Ini jembatan yg menyatukan pembaca dengan cerita. Karakter itu kendaraan yang melalui pilihan-pilihannyanya menyampaikan emosi ke pembaca. Nah, kalau cerita itu sukses, emosi tersebut memicu empati dalam diri pembaca. Dan empati itu yang nantinya berpotensi mengubah pandangan hidup pembaca.

Scriptozoid!: Ada pertanyaan dari @ndarow. Ia bertanya “Dalam menulis fiksi, seberapa jelas seharusnya kita menerangkan detil cerita?”
Maggie Tiojakin: Sesuai dengan kebutuhan cerita. Yang perlu diawasi jangan sampai detailnya menghilangkan poin cerita.

Scriptozoid!: Seberapa besar pengaruh apa dibaca, tonton, dengar waktu kecil pada kematangan bercerita Maggie sekarang ini? 
Maggie Tiojakin: Besar banget! Itu proses belajar bercerita sesungguhnya. Ditambah berlatih rutin. Semua penulis itu peran terbesarnya adalah sebagai pembaca, penikmat cerita.Kata mentorku dulu, kalau mau nulis, sebaiknya belajar dari penulis yg sudah mati.Dulu bacaanku John Grisham dan Danielle Steel. Tontonan 90210. Musik Celine Dion. List-nya dibongkar saat aku tinggal, kerja, sekolah di AS. Jadi Hemingway, Fitzgerld, Munro, Lahiri.

Scriptozoid!: @ndarow bertanya lagi, “Bagaimana dengan ending? Kapan kita harus ‘menghentikan’ cerita & memberi celah untuk anti-klimaks?”
Maggie Tiojakin: Ending itu sangat tricky. Kalau aku dgn mengikuti alur si karakter, biasanya nemu ending ‘bisikan’.

Scriptozoid!: pertanyaan dari @ndarow lagi, “Lebih bagus prolog yang menarik atau ending yang bombastis?”
Maggie Tiojakin: Opening menarik itu penting untuk menarik pembaca. Ada teknik yang bagus untuk itu, namanya “In Media Res”.

Scriptozoid!: pertanyaan dari @ndarow lagi, “Apakah sekolah/workshop/seminar kepenulisan itu perlu?”
Maggie Tiojakin: Sebagai motivator, tempat diskusi, dan tukar pikiran — perlu.

Scriptozoid!: Cerita soal Fiksi Lotus donk. Apa itu? 
Maggie Tiojakin: Fiksi Lotus adalah blog yang memuat cerpen-cerpen klasik dari berbagai belahan dunia yang sudah aku terjemahkan sendiri ke dalam Bahasa Indonesia. Genesis dari blog ini adalah kurangnya variasi dalam karya-karya cerpen klasik internasional yang beredar di pasaran domestik—sesuatu yang bagi aku penting sekali fungsinya dalam pembentukan karakter para penulis muda. Jadi aku pilih sendiri cerita yang ingin disajikan, meski sesekali ada request dari teman yang ingin membaca cerita pendek pengarang luar dalam Bahasa Indonesia. Seiring berjalannya waktu aku mulai menambahkan fitur-fitur lain seperti “Wawancara” dengan penulis dan “Tips” dari penulis.

Scriptozoid!: Kegiatannya apa?
Maggie Tiojakin: Kalau untuk kegiatan, sejauh ini baru diadakan satu workshop yang aku beri nama Lotus Creative. Itu pun ceritanya sekadar untuk merayakan kecil-kecilan rencana terbitnya Fiksi Lotus: Volume 1 (GPU)—tanggal terbit masih TBA.

Scriptozoid!: Siapakah yang bisa terlibat di workshop Fiksi Lotus?
Maggie Tiojakin: Workshop yang diadakan Fiksi Lotus sifatnya sama seperti crash-course. Lamanya sebulan, dan diadakan delapan kali—dua kali seminggu dengan metode “ngopi keliling”. Pesertanya dipilih berdasarkan cerita pendek asli yang dikirim oleh calon peserta sebelum workshop diadakan. Terbuka untuk siapa saja, asal tinggalnya di Jakarta. Karena sekarang ini baru diadakan di Jakarta.

Scriptozoid!: Hasilnya bagaimana? Dimana bisa dilihat?
Maggie Tiojakin: Cerpen-cerpen yang sudah direvisi oleh kelima peserta workshop periode pertama dapat dibaca di situs Fiksi Lotus. Kelima peserta ini masing-masing punya bakat yang besar dan karenanya aku senang sekali. Aku pasti akan terus memantau perkembangan mereka, karena aku yakin mereka bisa membawa tulisan Indonesia ke tingkat berikutnya.

Scriptozoid!: Sukses untuk novel terbaru Maggie yang berjudul Winter Dreams (#Winterdreams). Saya sudah beli dan menurut saya karya ini seprogresif “Olenka” karya Budi Darma dengan tokoh manusia yang terombang-ambing dalam pilihan hidup.
Maggie Tiojakin: Wah, terima kasih! Jadi speechless :)

Scriptozoid!: Tadi kita sempat bicara sekilas tentang karakter. Nah di #Winterdreams ini, siapa Nicky F. Rompa? Mewakili siapakah dia?
Maggie Tiojakin: Nicky mewakili remaja/pemuda ibukota pada umumnya yang bingung hendak ke mana dalam hidupnya dan selalu merasa ketinggalan—meski sebenarnya dia dan teman-teman sebayanya berada dalam ‘kapal’ yang sama.

Scriptozoid!: Inspirasinya dari mana?
Maggie Tiojakin: Novel ini merupakan hasil ‘proses penyaringan’ dari hidup aku sendiri selama sepuluh tahun terakhir—dalam arti semua benang merahnya sama, walau karakter, kondisi dan event-nya berbeda. Kegalauannya sama. Kegilaannya sama. Kesenangannya juga sama.

Dulu di awal usia 20-an, aku merasa kebingungan sendiri karena tidak punya keinginan besar untuk jadi orang kaya atau jadi bos atau jadi ibu rumah tangga—sementara teman-temanku semua mengarah ke sana. Tapi yang tidak aku perhatikan adalah, hampir semua dari teman-temanku yang notabene punya goal jelas ternyata hanya memproyeksikan hal tersebut dalam lingkup sosial, di mana mereka selalu berusaha menunjukkan ‘ilusi hidup’ yang terarah, yang pasti—sementara saat mereka sendiri, kebingungan yang sama juga mencekam pikiran mereka. Setelah berbicara dari hati-ke-hati dengan seorang teman sekitar tiga, empat tahun lalu—aku baru ngeh bahwa dia pun mengalami kegalauan yang serupa. Hanya saja saat kami mengalaminya, kami berpikir tak ada orang lain yang bernasib sama.

Dulu aku pernah baca review buku di koran yang mengangkat topik “Quarter-Life Crisis”—dialami oleh para muda-mudi yang berusia awal sampai pertengahan usia 20-an. Sebagian besar muda-mudi tidak mau mengakuinya, tapi buku itu jadi best-seller. Maka bisa disimpulkan bahwa sebagian besar muda-mudi justru merasakan dampak “quarter-life crisis” ini. Nah, inilah kelompok masyarakat yang diwakili oleh Nicky.

Scriptozoid!: Bagaimana penerimaan publik sejauh ini atas #Winterdreams?
Maggie Tiojakin: Karena belum ada sebulan buku ini berada di pasaran, apakah #WinterDreams sudah diterima atau belum oleh publik masih belum terukur. Tapi kalau mau dilihat dari respon yang sudah ada—pembaca banyak yang merefleksikan hidup mereka sendiri lewat perjalanan Nicky. Akhirnya karya ini justru menimbulkan pertanyaan dalam diri mereka; dan menurutku ini hal yang menarik. Karena selama menulis #WinterDreams, bahkan sampai sekarang saat aku membacanya lagi, aku pun dihadapkan oleh sederet pertanyaan dari hidupku sendiri.

Scriptozoid!: Apa karya lagi yang perlu ditunggu pembaca tahun 2012?
Maggie Tiojakin: Mudah-mudahan, bila semua lancar, akan ada kerjasama lagi antara aku, Awi Suryadi dan Delon Tio. Aku juga sedang merampungkan sebuah novella dan menyusun novel kedua. Dan, bila tak ada aral melintang, semoga rencana penerbitan #WinterDreams di AS dan UK berjalan sesuai rencana.

Scriptozoid!: Selamat tahun baru untuk @MaggieTiojakin. Punya pesan apa untuk tweeps yang dari tadi mengikuti #Twitteriak?
Maggie Tiojakin: Terima kasih yaaa. Selamat Tahun Baru juga semua! Pesan aku: terus luaskan batasan dunia kalian dengan banyak membaca dan jangan lupa untuk terus berdialog tentang apa-apa saja yang kalian baca. Proses ini sangat penting.

Demikian TWITTERIAK episode akhir tahun 2011 ini. Terima kasih untuk Maggie Tiojakin yang sudah berbagi ilmu dan cerita yang seru seputar dunia membaca dan menulis. Selamat Tahun Baru buat semua!

Baca lengkapnya di sini.
Advertisements