adalah seorang pemimpi yang tidak suka tidur. Dan ketika didatangi mimpi, senang menganalisa mimpi itu seolah pertanda serius (padahal cuma bunga tidur). Ngelindur.

Perhatian publik tercuri lewat cerita-cerita pendek yang ia tuliskan di Weekender The Jakarta Post. Kemudian kumpulan cerpennya diterbitkan mulai dari Homecoming hingga Balada Ching-Ching. Ada yang menyebutnya penulis Indonesia dengan wawasan global, tetapi Scriptozoid! menilai kehadiran penulis muda Maggie Tiojakin ini sebagai the most promising young writer lewat kumcer Balada Ching-Ching.

Menggemari L.A. Law hingga sempat bercita-cita menjadi pengacara, tetapi akhirnya Maggie malah menekuni dunia tulis-menulis sejak kecil. Dalam blog http://www.maggietiojakin.com ia bahkan pernah menulis novel 400-an halaman di masa kecil dengan judul NIBOR yang bila dibalik akan menjadi nama ROBIN namun menghilangkannya.

Kekuatan tulisan-tulisannya ada pada tema konflik psikologis dan karakter manusia modern yang terjebak di dalam arus zaman. Tahun 2011 ini, ia melahirkan skenario film dan satu novel baru. Di akhir tahun 2011, mari simak obrolan TWITTERIAK dengan Maggie Tiojakin berikut ini.

Scriptozoid!: Senang @MaggieTiojakin bisa ada di #Twitteriak episode akhir tahun 2011. Ingin tahu deh, apa arti tahun 2011 buat Maggie?
Maggie Tiojakin: Sama-sama, senang juga bisa join #Twitteriak yang mantap ini. 2011 tahun penuh berkah buat aku.

Scriptozoid!: Itu apa artinya ya? Jelasin donk lebih banyak…
Maggie Tiojakin: Tahun 2011 ini aku bisa menyelesaikan novel #WinterDreams. Aku juga diberi kesempatan oleh @Gramedia untuk menerjemahkan karya-karya klasik. Dan aku bisa kerja bareng @awisuryadi n @Delon_Tio untuk film Simfoni Luar Biasa (#SLB)

Scriptozoid!: Wow, dunia cerpen, novel, dan film. Gimana cara Maggie menempatkan diri di tiga hal menarik itu?
Maggie Tiojakin: Go with the flow aja sih sebenernya. Ketiganya menarik untuk dieksplorasi. Dan prinsipnya sama, teknik aja beda. Benang merahnya satu: bercerita. Karena nggak semua cerita bisa diceritakan dengan satu medium.

Scriptozoid!: Dalam skala tingkat kesulitan 0-10, berapa tinggi skor bercerita lewat cerpen, novel, film?

Maggie Tiojakin: Hmmm. Nggak bisa diukur menurutku. Karena masing-masing medium punya tantangan sendiri-sendiri. Cerpen itu medium penceritaan singkat dgn unsur cerita lengkap. Contohnya komik Archie, ceritanya itu-itu aja, lokasinya juga. Tapi karakternya yang bikin hidup.

Scriptozoid!: Martin Scorcese pernah ditanya penting mana antara cerita vs. plot. Kalau saya masukkan karakter ke dalamnya, mana dari 3 ini yang penting buat Maggie?
Maggie Tiojakin: Karena aku bicara dari segi penulis, bukan filmmaker, yang paling penting itu karakter. Buat aku, cerita dan plot seru gak ada artinya kalau karakternya generik. Dan prinsip ini, buatku, berlaku untuk semua jenis cerita: cerpen, novel, film, atau komik.

Scriptozoid!: Oke, kalau gitu siapa karakter-karakter yang Maggie gunakan di dalam cerita-cerita Maggie? Seberapa dekat mereka dgn realita? Siapa itu Andari Maimar di cerpen Dua Sisi, Nicky F. Rompa di #Winterdreams, Suci di Anatomi Mukjizat? 
Maggie Tiojakin: Karakter-karakter di cerita aku semuanya dari realita. Orang-orang yang aku tahu secara personal ataupun yang aku baca di media. Semua karakterku punya porsi realita beragam. Ada investasi imajinasi, orang lain serta dari pribadiku juga. Intinya baik itu Andari, Nicky maupun Suci could be anyone we know.

Scriptozoid!: Karakter Andari, Nicky, Suci buat saya betul-betul asing, tetapi emosi-emosi mereka nyata. Soal emosi, apa komentar Maggie? 
Maggie Tiojakin: Emosi itu buat aku benang merah setiap cerita. Ini jembatan yg menyatukan pembaca dengan cerita. Karakter itu kendaraan yang melalui pilihan-pilihannyanya menyampaikan emosi ke pembaca. Nah, kalau cerita itu sukses, emosi tersebut memicu empati dalam diri pembaca. Dan empati itu yang nantinya berpotensi mengubah pandangan hidup pembaca.

Scriptozoid!: Ada pertanyaan dari @ndarow. Ia bertanya “Dalam menulis fiksi, seberapa jelas seharusnya kita menerangkan detil cerita?”
Maggie Tiojakin: Sesuai dengan kebutuhan cerita. Yang perlu diawasi jangan sampai detailnya menghilangkan poin cerita.

Scriptozoid!: Seberapa besar pengaruh apa dibaca, tonton, dengar waktu kecil pada kematangan bercerita Maggie sekarang ini? 
Maggie Tiojakin: Besar banget! Itu proses belajar bercerita sesungguhnya. Ditambah berlatih rutin. Semua penulis itu peran terbesarnya adalah sebagai pembaca, penikmat cerita.Kata mentorku dulu, kalau mau nulis, sebaiknya belajar dari penulis yg sudah mati.Dulu bacaanku John Grisham dan Danielle Steel. Tontonan 90210. Musik Celine Dion. List-nya dibongkar saat aku tinggal, kerja, sekolah di AS. Jadi Hemingway, Fitzgerld, Munro, Lahiri.

Scriptozoid!: @ndarow bertanya lagi, “Bagaimana dengan ending? Kapan kita harus ‘menghentikan’ cerita & memberi celah untuk anti-klimaks?”
Maggie Tiojakin: Ending itu sangat tricky. Kalau aku dgn mengikuti alur si karakter, biasanya nemu ending ‘bisikan’.

Scriptozoid!: pertanyaan dari @ndarow lagi, “Lebih bagus prolog yang menarik atau ending yang bombastis?”
Maggie Tiojakin: Opening menarik itu penting untuk menarik pembaca. Ada teknik yang bagus untuk itu, namanya “In Media Res”.

Scriptozoid!: pertanyaan dari @ndarow lagi, “Apakah sekolah/workshop/seminar kepenulisan itu perlu?”
Maggie Tiojakin: Sebagai motivator, tempat diskusi, dan tukar pikiran — perlu.

Scriptozoid!: Cerita soal Fiksi Lotus donk. Apa itu? 
Maggie Tiojakin: Fiksi Lotus adalah blog yang memuat cerpen-cerpen klasik dari berbagai belahan dunia yang sudah aku terjemahkan sendiri ke dalam Bahasa Indonesia. Genesis dari blog ini adalah kurangnya variasi dalam karya-karya cerpen klasik internasional yang beredar di pasaran domestik—sesuatu yang bagi aku penting sekali fungsinya dalam pembentukan karakter para penulis muda. Jadi aku pilih sendiri cerita yang ingin disajikan, meski sesekali ada request dari teman yang ingin membaca cerita pendek pengarang luar dalam Bahasa Indonesia. Seiring berjalannya waktu aku mulai menambahkan fitur-fitur lain seperti “Wawancara” dengan penulis dan “Tips” dari penulis.

Scriptozoid!: Kegiatannya apa?
Maggie Tiojakin: Kalau untuk kegiatan, sejauh ini baru diadakan satu workshop yang aku beri nama Lotus Creative. Itu pun ceritanya sekadar untuk merayakan kecil-kecilan rencana terbitnya Fiksi Lotus: Volume 1 (GPU)—tanggal terbit masih TBA.

Scriptozoid!: Siapakah yang bisa terlibat di workshop Fiksi Lotus?
Maggie Tiojakin: Workshop yang diadakan Fiksi Lotus sifatnya sama seperti crash-course. Lamanya sebulan, dan diadakan delapan kali—dua kali seminggu dengan metode “ngopi keliling”. Pesertanya dipilih berdasarkan cerita pendek asli yang dikirim oleh calon peserta sebelum workshop diadakan. Terbuka untuk siapa saja, asal tinggalnya di Jakarta. Karena sekarang ini baru diadakan di Jakarta.

Scriptozoid!: Hasilnya bagaimana? Dimana bisa dilihat?
Maggie Tiojakin: Cerpen-cerpen yang sudah direvisi oleh kelima peserta workshop periode pertama dapat dibaca di situs Fiksi Lotus. Kelima peserta ini masing-masing punya bakat yang besar dan karenanya aku senang sekali. Aku pasti akan terus memantau perkembangan mereka, karena aku yakin mereka bisa membawa tulisan Indonesia ke tingkat berikutnya.

Scriptozoid!: Sukses untuk novel terbaru Maggie yang berjudul Winter Dreams (#Winterdreams). Saya sudah beli dan menurut saya karya ini seprogresif “Olenka” karya Budi Darma dengan tokoh manusia yang terombang-ambing dalam pilihan hidup.
Maggie Tiojakin: Wah, terima kasih! Jadi speechless :)

Scriptozoid!: Tadi kita sempat bicara sekilas tentang karakter. Nah di #Winterdreams ini, siapa Nicky F. Rompa? Mewakili siapakah dia?
Maggie Tiojakin: Nicky mewakili remaja/pemuda ibukota pada umumnya yang bingung hendak ke mana dalam hidupnya dan selalu merasa ketinggalan—meski sebenarnya dia dan teman-teman sebayanya berada dalam ‘kapal’ yang sama.

Scriptozoid!: Inspirasinya dari mana?
Maggie Tiojakin: Novel ini merupakan hasil ‘proses penyaringan’ dari hidup aku sendiri selama sepuluh tahun terakhir—dalam arti semua benang merahnya sama, walau karakter, kondisi dan event-nya berbeda. Kegalauannya sama. Kegilaannya sama. Kesenangannya juga sama.

Dulu di awal usia 20-an, aku merasa kebingungan sendiri karena tidak punya keinginan besar untuk jadi orang kaya atau jadi bos atau jadi ibu rumah tangga—sementara teman-temanku semua mengarah ke sana. Tapi yang tidak aku perhatikan adalah, hampir semua dari teman-temanku yang notabene punya goal jelas ternyata hanya memproyeksikan hal tersebut dalam lingkup sosial, di mana mereka selalu berusaha menunjukkan ‘ilusi hidup’ yang terarah, yang pasti—sementara saat mereka sendiri, kebingungan yang sama juga mencekam pikiran mereka. Setelah berbicara dari hati-ke-hati dengan seorang teman sekitar tiga, empat tahun lalu—aku baru ngeh bahwa dia pun mengalami kegalauan yang serupa. Hanya saja saat kami mengalaminya, kami berpikir tak ada orang lain yang bernasib sama.

Dulu aku pernah baca review buku di koran yang mengangkat topik “Quarter-Life Crisis”—dialami oleh para muda-mudi yang berusia awal sampai pertengahan usia 20-an. Sebagian besar muda-mudi tidak mau mengakuinya, tapi buku itu jadi best-seller. Maka bisa disimpulkan bahwa sebagian besar muda-mudi justru merasakan dampak “quarter-life crisis” ini. Nah, inilah kelompok masyarakat yang diwakili oleh Nicky.

Scriptozoid!: Bagaimana penerimaan publik sejauh ini atas #Winterdreams?
Maggie Tiojakin: Karena belum ada sebulan buku ini berada di pasaran, apakah #WinterDreams sudah diterima atau belum oleh publik masih belum terukur. Tapi kalau mau dilihat dari respon yang sudah ada—pembaca banyak yang merefleksikan hidup mereka sendiri lewat perjalanan Nicky. Akhirnya karya ini justru menimbulkan pertanyaan dalam diri mereka; dan menurutku ini hal yang menarik. Karena selama menulis #WinterDreams, bahkan sampai sekarang saat aku membacanya lagi, aku pun dihadapkan oleh sederet pertanyaan dari hidupku sendiri.

Scriptozoid!: Apa karya lagi yang perlu ditunggu pembaca tahun 2012?
Maggie Tiojakin: Mudah-mudahan, bila semua lancar, akan ada kerjasama lagi antara aku, Awi Suryadi dan Delon Tio. Aku juga sedang merampungkan sebuah novella dan menyusun novel kedua. Dan, bila tak ada aral melintang, semoga rencana penerbitan #WinterDreams di AS dan UK berjalan sesuai rencana.

Scriptozoid!: Selamat tahun baru untuk @MaggieTiojakin. Punya pesan apa untuk tweeps yang dari tadi mengikuti #Twitteriak?
Maggie Tiojakin: Terima kasih yaaa. Selamat Tahun Baru juga semua! Pesan aku: terus luaskan batasan dunia kalian dengan banyak membaca dan jangan lupa untuk terus berdialog tentang apa-apa saja yang kalian baca. Proses ini sangat penting.

Demikian TWITTERIAK episode akhir tahun 2011 ini. Terima kasih untuk Maggie Tiojakin yang sudah berbagi ilmu dan cerita yang seru seputar dunia membaca dan menulis. Selamat Tahun Baru buat semua!

Baca lengkapnya di sini.

Perempuan berkaca mata itu membaca dalam keremangan ruangan kafe Reading Room di Bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Kamis pekan lalu itu, Maggie Tiojakin membacakan bab yang tak ia masukkan dalam novelnya, Winter Dreams.

Mengawali karier menulis dari dunia jurnalistik, Maggie “pulang kampung” ke ilmu sastra yang dipelajarinya di Harvard Univesity. Setelah menerbitkan kumpulan cerita pendek, Maggie merilis novel Winter Dreams pada akhir tahun lalu. Berikut ini petikan obrolan dengan Maggie selepas diskusi novel terbitan Gramedia Pustaka Utama yang dihadiri penulis Andrea Hirata, Ratih Kumala, dan Erwin Arnada itu:

Novel Winter Dreams ini bercerita soal apa?
Ini bukan novel laga yang ada adegan tembak-tembakan, Ini soal kisah pencarian jati diri tokoh Nicky F. Rompa. Dalam novel ini diceritakan Nicky yang berusia 20 tahun, umur orang masih punya banyak mimpi yang ketika dewasa sering berbenturan dengan kenyataan hidup.

Kenapa memilih menceritakan kisah imigran gelap?
Imigran itu punya banyak cerita. Saya banyak bertemu mereka sewaktu kuliah di Amerika Serikat. Tinggal di sana menurut saya bukan untuk bergaul dengan orang berkulit putih tapi bergaul dengan orang dari berbagai belahan dunia yang datang ke sana mengejar mimpinya. Ada yang sekedar singgah dan ada yang imigran gelap. Di sana ada kehidupan yang penuh warna dari kultur yang berbeda-beda.

Jadi semua berdasarkan pengalaman ya?
Tidak semua. Ada yang berdasarkan riset saja, misalnya soal petualangan outdoor Nicky. Saya tidak suka outdoor apalagi dekat-dekat sungai, saya takut nyebur. Ibu saya selalu berpesan, Maggie jangan dekat-dekat air nanti ada buaya hahaha.

Mengapa bab tambahan tidak ikut diterbitkan?
Menurut saya ending di novel sudah cukup pas. Saya menulis bab tambahan ini khusus buat mereka yang penasaran dengan kelanjutan cerita Nicky.

Berapa lama menulis novel ini?
Winter Dreams ini kristalisasi ide saya selama tujuh tahun. Ceritanya sih saya mau bikin masterpiece tapi selama bertahun-tahun enggak juga mulai saya tulis hahaha. Lalu pada Januari lalu saya jadikan novel ini resolusi tahun baru dan selama tiga setengah bulan saya menulisnya.

Seperti apa proses penulisannya?
Saya bangun setiap pagi, menatap layar komputer yang putih itu dan mulai menulis. Tapi saya tidak memakai outline sama sekali.

Kenapa begitu?
Penulisan novel ini sangat magis buat saya. Ketika saya menemukan karakter Nicky, dia seolah bicara dan mengajak saya mengikuti perjalanannya. Saya menyiapkan enam halaman outline akhirnya tidak terpakai sama sekali. Karakter itu punya jalan pikiran sendiri. Ketika saya mencoba memaksakan outline yang berisi pemikiran saya, rasanya saya ditendang balik sama tokoh Nicky ini.

Anda memilih judul bahasa Inggris…
Tadinya mau judul Indonesia tapi kata penerbit kurang menjual. Tapi judul Winter Dreams pas buat merepresentasikan isi novelnya. Winter atau musim dingin itu kan kondisi di mana semua serba kacau dan semua tertutup salju, persis seperti masa muda seseorang yang baru ketahuan aslinya nanti setelah matang di musim panas.

Baca selengkapnya di sini.

Dunia penerbitan dan selera pembaca bisa saja tak menentu, namun novelis dan penulis skenario, Maggie Tiojakin, tetap menyimpan harapannya untuk terus melahirkan karya yang menyentuh kehidupan banyak orang.

Kapan mulai menyukai dunia tulis-menulis?
Saya mulai suka baca cerpen di usia 13 tahun, ternyata menyenangkan. Tapi yang paling saya ingat adalah ketika dulu membaca novel A Time to Kill karangan John  Grisham. Saat itu saya benar-benar terbawa dengan cerita, nggak mau makan dan deg-degan hanya karena menunggu ending novel itu. Dari situ saya sadar kalau tulisan ternyata bisa sangat ‘memengaruhi’ orang lain. Saya sempat mikir, kira-kira bisa nggak ya suatu saat menciptakan dunia yang sama untuk orang lain? Waktu SMA, boyband lagi booming, saya juga kebanjiran pesanan teman-teman yang ingin dibuatkan cerita khayalan dengan idola mereka. Saat paling menggembirakan sebagai remaja tentu adalah saat cerpen karya saya dimuat di Anita Cemerlang. Itu pertama kalinya saya dibayar dan bisa traktir ayah saya makan di restoran junk food dekat rumah. Seru banget!  Kebiasaan membuat cerita ini berlanjut terus sampai saya kuliah. Respon yang berdatangan juga cukup bagus.

Mengapa memilih cerpen?

Di Indonesia menulis cerpen dianggap sebagai batu loncatan atau latihan untuk menulis novel. Tapi setelah terjun dan diperkenalkan kepada dunia cerpen yang serius, saya belajar bahwa dua hal tersebut membutuhkan skill dan teknik yang berbeda. Kekuatan cerpen adalah bagaimana ia bisa menghadirkan kehidupan yang nyata, dengan segala kompleksitas dan permasalahannya tapi tidak bertele-tele.  Makanya bikin cerpen itu menurut saya susah banget, tapi akan timeless bila dikerjakan dengan baik dan benar.

Anda percaya kekuatan ‘muse’ saat menulis?
Winter Dreams adalah novel pertama saya, sekaligus bukti bahwa hal-hal seperti itu ada. Dari tahun 2004 saya sudah sangat ingin menulis novel tersebut. Tapi biar sudah bongkar-pasang sampai draft yang ke-50, karakternya tidak kunjung ketemu. Sampai akhirnya saya bertemu karakter saya, Nicky F. Rompa. Proses menulis itu magis buat saya. Setelah karakter itu punya nama, jiwa dan ceritanya pun muncul. Dia seperti hidup dan menceritakan kisahnya kepada saya. Saat menulis, saya tidak tahu ending-nya, karena saya menikmati perjalanan dan thrill-nya. Selama tiga bulan, saya terpaksa harus ‘menghilang’ karena saya khawatir mereka akan meninggalkan saya bila saya tidak buru-buru menuliskannya.

Nasehat terbaik yang pernah Anda terima?
Mantan atasan saya di sebuah toko pernak-pernik dulu pernah suatu hari memanggil saya dan bilang, “Saya melihat ada sesuatu yang baik dalam dirimu, cuma jalan ke sana tidak akan mudah. Tapi pastikan bahwa pekerjaan apa pun yang kamu ambil nanti, jangan sampai menyita waktumu dan bikin kamu tidak ingin menulis lagi. Kerja buat bertahan hidup itu penting, tapi jangan mematikan passion.” Itu sebabnya saya nggak mau kerja kantoran, ha ha ha.

What makes people good writers?
Ketekunan. Membaca, menulis, observasi, latihan. Mau sepintar apapun kalau nggak tekun, ya bubar. Menulis itu proses komunikasi yang sunyi dan sepi. Suatu proses yang harus dijalani sendirian—dengan tekun.

Tantangan menulis selanjutnya?
Saya selalu tertarik dengan tema relationship. Sesudah proyek film Simfoni Luar Biasa dengan Awi Suryadi dan Delon Tio, saya sedang menggarap suatu cerita yang mengangkat tema humanity. Tantangan terbesar dalam dunia tulis-menulis? Selama ini ada begitu banyak cerita yang seharusnya bagus tapi tidak berkembang karena terlalu tunduk pada plot, keberatan pesan-pesan si penulis sehingga karakter-karakter yang ada kurang terbangun. DS 

Baca selengkapnya di sini.

The Novel

Winter Dreams is my first published novel. When someone asks me what it is about, I have to think a minute, and then another minute, just to try to sum up the things that make the novel. And the best I can tell you is it is about coming to terms with adulthood. The story in the novel spans about six years, between 1998 and 2003—and it talks about relationships, mostly. I believe that a person’s life is colored by relationships more than goals or prized possessions. We can be anywhere in the world and dealing with a number of things to do with money and technology or places, but what these things ultimately come down to are relationships—between man and each other, man and his universe, man and his dreams, man and his home, et cetera. There are “five books” in Winter Dreams, where each represents a stage in the protagonist’s life; and I chose this particular approach because I feel, as it is in my own life, the events that make up my dreams are just as important as those that break my hopes. And when you put these things together, you end up with something that closely resembles life, where everything has its moments and nothing really lasts forever. Because life is about moving on—and I suppose that’s what Winter Dreams is about, as well.

The Process

I had been wanting to write this novel since 2004, when I was still living in Boston. I remember sitting in my friend’s car on our way to Providence, Rhode Island, and looking at the road ahead which seemed—at the time—endless and full of possibilities, and saying to her how I thought I was ready to start “the book”. It felt genuine at the time and my desire to complete what I thought would be the “ultimate work” was quite strong—so I knew I was on the right track and thus I began to tell some people about it. I even came up with a title for it, My America, My Dementia. But what I didn’t realize was that it would take me ten thousand miles away from America to be able to write about it and about fifty-plus drafts of failed first chapters in the next seven years before I came to know the characters that eventually breathe life into Winter Dreams.

The Protagonist

The first fifty-plus drafts involved a mix of protagonists who, for obvious reasons, never quite stuck with me or the story. I didn’t know what they want or who they are or where they are going. Then, one night, I sat down in front of my computer and thought of various names I thought might work for the story. By this time, I was no longer sure I wanted to call the work My America, My Dementia. Plus, I thought any story would do so long as it got me to write something good. I had given up on “the book” and I certainly didn’t think I was capable of creating the “ultimate work”. So I set out to write a simple story and I thought it would be nice to start with one name. That was when it occurred to me: Nicky F. Rompa. He is everything I am; and yet he is nothing like me. We’re alike in some ways and different in other ways. We would probably be good friends if he weren’t fictional, but I doubt we’d be the kind of friends who could call each other up at  3 am and not feel slightly weirded out by it. He is young and complicated and doesn’t know what he wants until he knows it—and he probably represents most people in their early 20s.

The Setting

The novel starts out in Jakarta and, as it progresses, moves to Boston. Like Nicky, I arrived in Boston in 2000 in the middle of a snowy spring. I think I fell in love with the city as soon as I got out of the airport. I don’t know every inch of the city the way some people do, but some parts of the city are so familiar to me that I feel they are imprinted onto my identity. Some would say that the best part about being in a new place is getting to know new people; and I agree. But I would also argue that the best part about being in a new place is getting to know a new place. The six years I spent in Boston are made beautiful by the people, yes; nevertheless, there were inexplicable moments in my life there which I could only share with the air, the buildings, the water, and the ground beneath my feet. To say that a place is meaningless without the population would render  the body meaningless without the soul; and to a certain extent it is true, but as love goes we often identify with a person by the hand that we hold, the lips that we kiss and the smell of their body. Someone said to me once that there are only three people in her life whose scents she knows by heart—and that’s probably the most profound love confession I have ever heard. Thus, in a way, these things, the physical things of our universe, of our existence, whether or not they are to last beyond decay, are the things we most cherish. And so I wanted to have a setting that serves as a character in the story. And I wanted it to sound as though I were writing it a love letter. I wanted each corner of the city to be as familiar to me as it would be to the readers. I hope I have done it justice.

The Writing

Despite the difficult start over a period of seven years, once I got to know Nicky in the first chapter of the story—I could not stop. The writing took about three months. Seven days a week. Twelve to fourteen hours a day. This is not to say I worked hard, all I did was “show up” and “listen”—this is to say I could not wait to get it done. I was curious how it would end. I was a spectator more than a creator. It was as though the protagonist was telling me his story and my job was to document it. So I did. Some of the relationships portrayed in this book are very similar to the ones in my own life, but in many ways they are also different from my own experiences. During the writing, I felt as though I was transported into a different universe. I could not be involved in the daily comings and goings of the real world as I had to focus on the world I had created for Nicky. And for three months, I was stuck in a dream I wasn’t sure I wanted to escape. And if my body didn’t need sleep, I would have been more than happy to give that up too. Needless to say, those were the most grueling three months I had ever experienced as a writer. I lived and breathed through a fictional character; and as he embraced life and all of its complexities, I was drawn to do the same. When I wrote the final scene in the final chapter, I didn’t realize I had come to the part where I had to say goodbye to Nicky and the city I had carefully constructed from memory. Naturally, I burst into tears. As the final words were set on to the page, I broke down both from exhaustion and loss. It was the best thing I had written in all of my life at this point. I don’t know if it is possible for a writer to grow along with his or her own writing—but in writing Winter Dreams I felt I had grown in ways that only an experience of this magnitude could compel. I am forever thankful for it.

The Influences

Over the course of my writing career, if I could be so bold to call it that, I have been influenced by mostly writers of short stories, such as Jhumpa Lahiri, Alice Munro, Raymond Carver, Anton Chekhov, Andre Dubus and Michael Byers. Each writer influences me in different ways, but they all teach me the same thing—and that is to write as honestly as possible. In writing Winter Dreams, I try to be honest every step of the way. And what that means is I refrain from manipulating the readers. I wanted each experience to be something real and every emotion as unprocessed as possible. This is probably the first time I ever try to write a story where the readers have as big a role in the process of completing the journey as I do in creating it. I meet the readers halfway because I trust them to do so. I believe most of my readers are more sophisticated than I am—so I decided not to cheat them with cheap tricks or easy paradigm. Life is complicated, and why can’t it be as complicated in a story? This, of course, I learned from Ernest Hemingway. His writing taught me to trust my characters, to trust my readers and to trust the story I wanted to tell. And that was what I did.

The Title

As I had mentioned before, the earliest title for the book was My America, My Dementia. When I finished the book, I wanted to call it Separuh Ilusi, or Part Illusion. But the editor and I decided that neither of these titles had enough weight to represent the story. So we searched for other ideas, one of them being Winter Dreams. Some people liked it, some didn’t. Nevertheless, I think it fits with the whole theme of the book. Because sometimes being in our early 20s is a lot like getting stuck in a snowstorm. People fantasize about winter as much as they do about their youth—and the thing about winter is it never really goes away, and rather than ‘arriving’ it would just blast you with snow and below zero temperatures. Again, a lot like being in our early 20s.

The Cover

I wish the cover had come with a specific title, because it just takes my breath away. Staven Andersen, a brilliant illustrator who, despite the name, is actually an Indonesian, has done an amazing work that endears him to me for life. In the process of creating the cover for Winter Dreams we had gone through perhaps over a dozen drafts and themes and ultimately went for the one with the bird on top of the building in the middle of an afternoon in winter because of the feel and philosophy behind it. Working with Staven has always been a major high for me because he thinks like a sentient being that constantly absorbs life and turns it into visual poetry almost by magic. We worked on this cover for four months, going back and forth and back again—until we both felt good about it. And the editor liked it. And that was that.

The Editing

My editor at Gramedia Pustaka Utama is Mirna Yulistianti. Like all writers, I too am indebted to my editor—whose support and friendship I value most immensely. Another editor at Gramedia Pustaka Utama to whom I am also indebted is Hetih Rusli. She was the first person I came to early in 2011 when I was about to embark on what I thought would be another doomed attempt at writing the first chapter of “the book”. She was the one who told me to focus on the character. In a way, she helped me discover Nicky. And for that—no amount of thanks will ever be enough.

 

Thanksgiving Day

The editor and I agreed to push the publication date of Winter Dreams, which had previously been set for September 2011, to November 24 2011 because we wanted the book to be “ripe” enough when it hits the printer. We are thankful for the time we had taken because the two months between September and November were spent largely on revising some scenes and perfecting the cover. And it is set on Thanksgiving Day for reasons you will find in the book.

 

The Readers

You have an important role in the story. It is as much mine as it is yours. I hope you like it. Thank you for reading it.

Maggie Tiojakin – November, 2011.